Pendudukan Perancis (1806-1811)
Tidak sepanjang tahun 1800 sampai dengan 1945 Belanda memerintah di koloni
Hindia Belanda. Selama masa tersebut ada beberapa masa-masa interval, dimana
Belanda harus menyerahkan kekuasaanya, yang pertama kepada Perancis dan yang
kedua kepada Inggris. Karena pendudukan Perancis dilakukan di negeri Belanda,
maka pengaruh secara langsung terhadap pendudukan Indoneisa sangat kecil
sekali. Karena seluruh kontrol pemerintahan di
Indonesia tetap dipegang oleh
Belanda, walaupun pada saat itu Belanda merupakan jajahan dari Perancis. Namun
karena pendudukan Perancis itu, maka secara tidak langsung
Indonesia termasuk juga dalam
kekuasaan Perancis. Tahun 1806 Napoleon mulai menduduki Belanda dan mengangkat
saudaranya Louis sebagai raja di Belanda. Pada masa-masa itu koin-koin Perancis
mulai dipakai di daerah Hindia Belanda. Pada tahun 1808, H.W. Daendels datang
sebagai Gubernur Jendral yang baru di
Indonesia. Sebelum kedatanganya,
koin-koin Doit tembaga dengan tahun 1806-1810 sudah dicetak dengan desain
tulisan "Java" dan lambang VOC dibaliknya. Daendels memerintahkan
agar lambang VOC pada koin berikutnya harus diganti dengan nama raja
(Perancis). Maka mulai tahun 1810 dicetaklah koin-koin dengan nama raja LN
(Louis Napoleon), baik dengan huruf Blok maupun dengan hiasan (Ornate)
Pada jaman sebelum Daendels datang,
Batavia
masih merupakan suatu benteng (Citadel) dengan puri-purinya, yang dikelilingi
oleh tembok-tembok besar beserta parit-parit disekitarnya. Akibatnya
kota menjadi sangat pengap
dan sering timbul wabah penyakit. Walaupun tidak pernah dilaksanakan, namun
sebelumnya pernah diusulan agar markas besar dipindahkan ke
Surabaya
atau
Semarang.
Akhirnya pada tahun 1809 Daendels memerintahkan untuk membongkar seluruh
tembok-tembok yang mengelilingi
Batavia,
termasuk puri-purinya, serta menimbun parit-parit yang ada disekeliling
Kota. Daendels juga
memerintahkan mintmaster terkenal Awekkert pindah dari percetakan uang di
Batavia untuk mengurus percetakan uang di
Surabaya,
yang menyebabkan percetakan uang
Batavia
menjadi mandeg. Koin pertama kali dicetak di
Surabaya adalah duit tembaga dengan tulisan
"Java 1806" serta lambang VOC dibaliknya. Koin ini pertama kalinya
dicetak oleh F. Loriaux. Walaupun tertera tahun 1806, namun koin ini sendiri
baru dicetak pada Februari 1807.
Pada tahun 1811 Inggris menginvasi Jawa, dan berhasil mengalahkan Belanda.
Dan mulailah babak baru pendudukan Inggris terhadap
Indonesia
selama
lima
tahun kedepanya!
Pendudukan Inggris(1811-1816)
Pada waktu Perancis menginvasi Belanda pada tahun 1806, Inggris mencoba
mengambil kesempatan itu untuk merebut koloni-koloni Belanda di Nusantara. Maka
pada tahun 1811 dimulailah pendaratan ke Jawa, yang berakhir sukses dengan
kekalahan Belanda. Belanda akhirnya harus menyerahkan koloninya kepada Inggris.
Berbeda dengan pendudukan Perancis terhadap Belanda, Pendudukan Inggris
dilakukan secara langsung, dimana Belanda harus menyerahkan kekuasaanya di
Hindia Belanda kepada Inggris. Oleh karenanya, sejak saat itu
Indonesia secara langsung berada di
dalam kekuasaan Inggris. Pada masa "The British Interregnum" untuk
pertama kalinya diangkat Sir Thomas Stamford Raffles sebagai Gubernur Jendral
Inggris ditanah jajahan ex Belanda tersebut. Mulailah khasanah baru pencetakan
koin-koin, dengan model atau lambang perusahaan Inggris "British East
India Company" pada salah satu sisinya.

Satu seri koin menarik yang dicetak pada masa pendudukan Inggris adalah Koin
Java rupee yang terbuat dari emas dan perak. Contoh pada gambar koin, dibagian
depanya ditulis dalam bahasa Jawa Kuno "Kempni Hingglis,jasa jing
Sura-pringga. Tahun Ajisaka AAS 1741", dan initial Z dibawah. Sedangkan
dibaliknya tertulis dalam bahasa Arab Melayu
"Hingglis,sikkahKompani,sannah AH 1229 dhuriba,dar djazirat Djawa".
Koin ini dibuat oleh seorang mintmaster legendaris yang bernama "Johan
Anthonie Swekkert". Koin diatas dengan tahun AH 1229 (AS 1741), adalah
salah satu seri koin Java Rupee yang cukup langka. Semua koin-koin pada masa
pendudukan Inggris dicetak di Surabaya, keccuali koin darurat yang terbuat dari
timah murni Bangka dengan tahun 1813 dan 1814, yang dicetak di Batavia.
Setelah kekalahan yang dialami Napoleon di Eropa, maka berdasarkan
perjanjian Wina tahun 1814 Inggris harus mengembalikan Jawa dan daerah lainnya
kepada Belanda. Penyerahan koloni itu baru dilaksanakan Inggris pada tanggal 16
Agustus 1816.
Jaman Pemerintahan Jepang (1942-1945)
Pendudukan Jepang di Indonesia hanya berlangsung selama tiga setengah tahun.
Pada masa itu Jepang hanya mencetak satu seri koin saja, yaitu dalam pecahan 1,
5, dan 10 sen, dan semuanya dicetak pada tahun Jepang 2603 dan 2604 (tahun
Masehi 1943 dan 1944). Koin pecahan 1 dan 5 sen terbuat dari alumunium,
sedangkan 10 sen terbuat dari timah. Pada koin nominal 5 dan 10 sen, di bagian
muka terdapat gambar wayang, sedangkan nominal 1 sen terdapat gambar kepala
wayang. Di bagian belakangnya terdapat tulisan Jepang, JAVA, nominal (5 Sen),
dan tahun Jepang 2603/04.
Setelah Jepang menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945, maka tiga hari
setelahnya tanggal 17
Agustus,
Indonesia
memproklamirkan diri sebagai negara merdeka. Mulailah babak baru jaman
Pemerintahan Negara Republik
Indonesia.
Jaman Pemerintahan Republik Indonesia
(1945-sekarang)
Masa-masa awal setelah proklamasi kemerdekaan
Indonesia tanggal 17 Agustus 1945,
adalah masa masa kritis bagi "The Born Republic". Belanda dengan rasa
penasaran dan tidak mau kehilangan koloni strategisnya, masih terus melakukan
agresi-agresi militernya. Namun berkat perjuangan yang sangat gigih dari
pejuang Republikan, serta lobby-lobby yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin kita
baik di luar negeri maupun di badan dunia PBB, maka pada tanggal 27 Desember
1949 Belanda secara resmi menyerahkan semua kekuasaanya di Kepulauan Nusantara
kepada Indonesia, kecuali Irian Barat (Netherlands New Guinea). Belanda tetap
bercokol disana, hingga pembebasan Irian Barat berhasil dilakukan pada tahun
1963. Pada tanggal 1 Oktober 1962 Belanda menyerahkan segala kekuasaanya di
Irian Barat kepada PBB, yang nantinya akan diserahkan kepada
Indonesia per tangal 1 Mei 1963.
Pemerintahan Sukarno (1945-1967)
Pada tahun-tahun awal setelah proklamasi kemerdekaan, banyak dicetak uang
kertas ORI (Oeang Republik
Indonesia),
dan uang-uang darurat yang dicetak oleh daerah-daerah (URIDA). Koin Republik
Indonesia adalah untuk pertama kalinya pada
jaman setelah kemerdekaan Republik
Indonesia adalah koin tahun 1951.
Koin ini terbuat dari alumunium dengan pecahan 5 sen, yang mempunyai ciri
khusus, yaitu mempunyai lubang pada bagian tengahnya. Koin alumunium pecahan 10
sen (tanpa lubang) dengan gambar Garuda dicetak pada tahun 1951 juga.
Berikutnya pada tahun 1952 dicetak koin-koin dengan pecahan 1 sen (yang
mempunyai desain sama dengan pecahan 5 sen bolong) dan pecahan 25 Sen. Pada
tahun yang sama juga dicetak koin dengan pecahan 50 sen dengan gambar
Dipanegara. Satu hal yang patut dicatat adalah dicetaknya koin emas dengan
gambar Dipanegara. Koin ini dicetak pada tahun 1952 dengan berat 15 gram. Dan mempunyai
nilai Rp 25. Pada bagian muka adalah gambar Dipanegara, dengan tulisan
DIPANEGARA disebelah kiri dan tulisan arab di kanan. Sedangkan di baliknya
adalah lambang
Garuda Pancasila,
INDONESIA di
atas disertai dengan tulisan melingkar BEKERJA MENABUNG MEMBANGUN. Tahun 1952
adalah masa perintisan negara
Indonesia,
sehingga tidak banyak orang yang mau menyimpan koin yang tergolong mahal itu.
Akibatnya, sebagian besar koin emas Dipanegara pada waktu itu diborong oleh
para kolektor atau pedagang diluar negri. Sekarang ini jika kita ingin
memilikinya, opsi terbaik adalah dengan membelinya dari luar negri, karena di
Indonesia
sendiri koin ini cukup langka untuk diperoleh!
Seri koin-koin dengan gambar Sukarno juga dicetak untuk peredaran khusus
Kepulauan Riau. Koin-koin dengan tahun 1962 (dicetak tahun 1963) ini terbuat
dari alumunium, dan terdiri dari pecahan 1, 5, 10, 25, dan 50 sen. Koin-koin
ini ditarik dari peredaran dan dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 30
September 1964. Pada pinggiran semua koin seri Kepulauan Riau ini, tertera
inskripsi "KEPULAUAN RIAU".
Pada masa pembebasan Irian Barat (dulu Netherlands New Guinea), yang
berlangsung dari tahun 1961 sampai dengan 1963, juga dicetak koin-koin seri
Sukarno, dengan desain yang sama persis dengan seri kepulauan Riau. Seri ini
dicetak khusus untuk peredaran di Irian Barat, dan bertahun 1962 (Dicetak tahun
1964). Namun akhirnya dinyatakan tidak berlaku lagi sejak tanggal 31 Desember
1971. Untuk membedakannya dengan seri Riau, koin-koin seri Irian Barat dengan
nominal 1, 5, dan 10 sen, mempunyai pinggiran polos (Plain) dan tidak ada
inskripsi apapun. Sedangkan koin dengan nominal 25 dan 50 sen, pada pinggiran
koinya adalah bergerigi (Reeded). Koin-koin seri Riau cukup sulit didapat di
pasaran lokal.
Pada masa Sukarno, banyak dicetak koin-koin "Pattern" atau
"Proof" dengan bahan alumunium. Koin-koin "Pattern" pecahan
50 sen dengan gambar Sukarno dicetak pada tahun 1962. Tahun itu juga terdapat
koin Pattern dimana kedua sisi depan dan belakangnya sama ( 50 Sen dalam
untaian padi dan kapas). Tahun 1965 dicetak koin proof dengan desain tahun
1965/62. Juga pada tahun 1963 dicetak koin senilai Rp 2½ dengan gambar Sukarno
dibagian depan. Pada bagian sisi sampingnya, koin ini mempunyai inskripsi:
"BHINEKA TUNGGAL IKA".
Pemerintahan Suharto (1967-19998)
Masa pemerintahan Suharto dapat dikatakan sebagai masa pembangunan
Indonesia.
Setelah Suharto diangkat sebagai Presiden
Indonesia yang kedua, maka
koin-koin yang pertama kali dicetak pada awal pemerintahanya adalah tahun 1970.
Koin-koin dengan bahan alumunium ini dikenal sebagai koin-koin seri burung
(nominal 1 dan 5 rupiah) serta padi dan kapas (2 rupiah). Kampanye program
keluarga berencana juga diabadikan dalam koin-koin seri tahun 1974 dan 1979,
yang keduanya dari alumunium dengan nominal 5 rupiah. Serial koin-koin menarik
dari bahan perak dan emas diluncurkan pada tahun 1970, guna memperingati 25
tahun kemerdekaan
Indonesia.
Koin-koin ini dicetak dengan bahan perak dan emas, mempunyai desain yang sama,
namun berbeda dalam nominalnya. Pecahan Rp 200 mempunyai desain burung
Cendrawasih, Rp 250 gambar Patung Manjusri, Rp 500 adalah Penari Wayang, Rp 750
adalah Barong, dan Rp 1.000 bergambar Jendral Sudirman. Untuk yang emas 5.000,
10.000. 20.000 dan 25.000. Seri-seri binatang dicetak pada tahun 1974 dengan
gambar Harimau Jawa (Rp 2.000), Orang Utan (Rp 5.000) dan juga koin dari bahan
emas dengan gambar komodo (Rp 100.000). Tahun 1987 diterbitkan lagi koin-koin
menarik seri binatang, dari perak bernilai Rp 10.000 (Babi Rusa) dan dari emas
bernilai Rp 200.000 (Badak Jawa).
Peringatan 50 tahun Kemerdekaan
Indonesia
tahun 1995 diabadikan dalam koin-koin dengan wajah Suharto. Koin-koin ini
terdiri dari satu set, dimana koin dengan nominal Rp 300.000 (berat 17 gram)
mempunyai desain muka Suharto yang sedang berdialog dengan penduduk. Sedangkan
nominal Rp 850.000 (berat emas 50 gram), yang menggambarkan wajah penuh Suharto
sedang menghadap kedepan.
Satu hal yang perlu dicatat dalam numismatik
Indonesia, adalah dicetaknya koin
dengan bahan Bi-Metal (dua bahan sekaligus). Koin ini pertamakalinya dicetak
pada tahun 1993 dengan nominal Rp 1.000, dengan gambar pohon kelapa. Pada
bagian lingkaran luar terbuat dari Copper-Nickel, sedangkan lingkaran dalamnya
terbuat dari bahan Brass (kuningan). Inilah satu-satunya koin Bi-Metal yang
pernah dicetak oleh
Indonesia
sampai saat ini.
Koin alumunium-Bronze nominal Rp 500 dengan gambar bunga melati, mulai
dicetak pada tahun 1991. Lalu pada tahun 1997 dicetak lagi koin dengan pecahan
Rp 500 dengan desain Bung Melati yang telah disempurnakan. Koin ini merupakan
koin terakhir yang dicetak pada masa kepemimpinan Suharto, sebelum beliau
digantikan oleh B.J Habibie setelah kerusuhan melanda
Jakarta pada tanggal 21 Mei 1998.
Pemerintahan B.J Habibie (1998-1999)
B.J Habibie diangkat sebagai Presiden (Interim), setelah Suharto
mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998. Pada masa pemerintahannya, beberapa
koin dengan desain baru sempat dicetak, yaitu koin alumunium pecahan Rp 50 dan
Rp 100 seri Burung Cariole dan burung Kakatua, tahun 1999. Satu lagi pada tahun
1999 juga dicetak koin emas seri "For the Children of the World"
dengan nominal Rp 150.000, dengan desain mukanya anak laki-laki bermain kuda
lumping.
Pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001)
Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur disumpah menjadi presiden setelah
beliau memenangkan pemilihan presiden oleh MPR pada bulan Oktober 1999. Sayang,
pada masa pemerintahanya hingga tanggal 23 Juli 2001, tidak ada koin-koin
dengan desain baru yang pernah dicetak. Tahun 2000 hanya dicetak satu koin
pecahan Rp 1000 Bi-Metal yang diambil dari desain lama.
Pemerintahan Megawati Soekarnoputri (2001-2004)
Setelah MPR menjatuhkan mosi tidak percaya pada tanggal 23 Juli 2001 kepada
Abdurrahman Wahid, pada saat itu juga diangkat wakil Presiden Megawati menjadi
Presiden Republik Indonesia yang ke-5. Setelah masa pemerintahanya, hanya dua
buah koin dengan desain baru yang mulai diedarkan pada bulan November 2003,
yaitu koin-koin alumunium dengan pecahan Rp 200 (Jalak Bali) dan Rp 500 (Bunga
Melati).
Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono (2004-..)
Susilo (atau lebih dikenal dengan sebutan SBY) dan Jusuf Kalla, dilantik
sebagai Presiden RI yang ke-6 dan wakil Presiden pada tanggal 20 oktober 2004,
setelah memperoleh suara terbesar dalam pemilu tahun 2004. Pemilu tahun 2004
tercatat dalam sejarah
Indonesia
sebagai Pemilu yang untuk pertama kalinya dilakukan secara langsung oleh dan
untuk rakyat. Namun setelah setahun pemerintahannya, belum ada satupun mata
uang baru yang telah dicetak. Kita harapkan saja akan segera dicetak uang-uang
dengan desain yang menarik dan terbuat dari logam yang lebih baik dari sebelumnya
(seperti Bi-Metal), yang akan menambah koleksi dan perbendaharaan mata uang
Idonesia.
Seperti telah kita ketahui bahwa sangat jauh sekali perbedaan antara desain
dan mutu mata uang yang dicetak pada tahun 1993 kebawah (termasuk desain lama
dengan versi baru) dibandingkan dengan cetakan mata uang seperti sekarang ini
beredar (tahun 1994 keatas). Coba lihat dan bandingkan antara cetakan dari
kedua periode diatas, dimana yang desain dan mutu mata uang tahun 1993 kebawah
lebih menawan dibandingkan dengan cetakan cetakan sesudahnya. Hal ini dapat
diindikasikan bahwa kondisi perekonomian
Indonesia pada periode itu, yaitu
sampai dengan setelahnya. Seperti telah diketahui bahwa sejak tahun 1998,
kondisi perekonomian
Indonesia
sedang sakit parah, dan masih belum bisa kembali sembuh hingga saat ini.
Mata uang lainnya
Selain beraneka ragam mata uang yang telah diceritakan diatas, masih banyak
mata uang lainya yang dulu pernah beredar di bumi
Indonesia ini. Bukan hanya
koin-koin dari Jawa seperti Banten,
Cirebon,
Sumenep, tetapi juga koin-koin bersejarah dari luar Jawa telah menggunakan mata
uangnya sendiri pada kurun waktu yang telah lama sekali.
Kerajaan-Kerajaan Di Jawa (Banten, Cirebon, Sumenep)
Setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit di bagian Timur pada kira-kira tahun
1528, maka di Jawa bagian barat, Bantam atau Banten, berangsur-angsur menjadi
pusat perdagangan di Jawa. Kapal-kapal dari negara-negara lain, serta jung-jung
Cina, hampir tiada hentinya datang untuk berdagang di wilayah Banten.
Setelah kedatangan Cornelis de Houtman dengan armada dagang Belanda untuk
pertama kalinya di tanah Jawa pada tahun 1595, maka Banten menjadi daerah
rebutan perusahaan-perusahaan Belanda. Pada waktu VOC didirikan pada tahun
1602, pertama kalinya mereka mendirikan markasnya di
Amboina,
Maluku. Tiga Gubernur Jendral VOC yang pertama bermarkas di pulau rempah-rempah
itu. Namun Amboina dirasa kurang strategis, sehingga dicari alternatif lain
untuk membuka kantor dagangnya yang baru, yaitu Banten.
Ternyata di Banten mereka kalah dalam bersaing dengan pedagang-pedagang
mancanegara lainya, karena pangeran Banten tidak mau menyerahkan monopoli
rempah-rempahnya ke tangan VOC. Akhirnya pada tahun 1610 VOC menyewa sepetak
tanah di Jayakarta (Sekarang Jakarta) dari pangeran Jayakarta. Pada waktu itu
Jakarta termasuk dalam
daerah kekuasaan Banten. Dari sepetak tanah, VOC kemudian membangun sebuah
Kastil serta benteng-benteng pertahanan di sekelilingnya. Persewaan tanah itu
akhirnya menimbulkan permusuhan antara VOC dengan Banten. Pada tahun 1618,
pasukan Banten, Pangeran Jayakarta, beserta sekutunya Inggris, mengepung dan
menyerang benteng VOC. Pertempuran besar terjadi akhirnya pada tanggal 30 Mei
1619 tentara VOC dibawah pimpinan Jan Pieterzoen Coen, dapat memukul
musuh-musuhnya. Istana Sultan Jayakarta dibumi-hanguskan dan kerajaan Banten
diporak-porandakan. Dari reruntuhan itu akhirnya dibangun Kastil
Batavia sebagai markas
besar VOC di Hindia Belanda. Sedangkan Inggris sendiri setelah kekalahanya di
Jayakarta mereka lari ke
Sumatra dan
mendirikan markas besarnya di Bencoolen (Bengkulu)
Koin-koin dari Kesultanan Banten dibuat sekitar tahun 1550-1596 Masehi.
Bentuk dari koin Banten mengambil pola dari koin Cash Cina yaitu dengan lubang
ditengahnya dengan 6 segi pada lubangnya itu. Inskripsi pada bagian muka pada
mulanya dalam bahasa Jawa kuno: "PANGERAN RATOU", nama dari Sultan
Banten waktu itu. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, Inskripsi
diganti dengan tulisan dalam bahasa Arab.
Demikian pula dengan pola koin-koin dari Kesultanan Cirebon, yang mengambil
bentuk seperti pola koin Cash Cina. Koin-koin
Cirebon dibuat kira-kira tahun 1742 dimana
saat iu berkuasa Sultan Sepuh. Koin dengan bahan dari timah dengan lubang
ditengah itu, pada bagian muka tertulis inskripsi: "CHERIBON".
Berbeda dengan koin-koin Banten dan
Cirebon,
Kesultanan Sumenep di Pulau Madura tidak mencetak mata uang dalam versinya
sendiri. Mata uangnya diambil dari koin-koin asing (diluar Sumenep), dengan
diberi "Counter-marked" (Cetak tindih). Koin-koin yang digunakan
adalah koin-koin Thaler dari Autria, Gulden Pallas, Dukaton Belanda, Java
Rupee, Mexico 2 Pillar (Bola Dunia) dan Cob Coin (Real Batu), serta koin-koin
Hispan Mexico 8 Reales. Sedangkan cetak tindih yang dipakai, ada beberapa,
seperti: "Bintang Madura”, tulisan arab "Sumenep", dan cap
"Bunga dengan 5 daun". Koin-koin dengan cetak tindih ini dibuat pada
saat bertahtanya Sultan Paku Nata Ningrat (1811-1854) di Kesultanan Sumenep,
Madura.
Kerajaan Samudra Pasai dan Aceh
Mata uang emas dari Aceh dinamakan "Derham", yang merupakan
"sambungan" dari mata uang kerajaan Samudra Pasai, setelah ditaklukan
Aceh pada tahun 1524. Mengingat bahwa sejarah panjang mata uang Pasai dan Aceh
sangat menarik untuk dibahas, maka akan dibuat dalam artikel tersendiri.
Kerajaan Palembang
Ciri khas dari koin-koin
Palembang
adalah mempunyai lubang di tengahnya, seperti koin cash dari Cina. Koin-koin
Palembang disebut Pitis Teboh atau Pitis Lubang (Teboh
adalah lubang dalam bahasa
Palembang).
Banyak sekali jenis-jenis koin
Palembang
yang pernah dicetak seperti diuraikan pada buku Millies No. 182-209. Gambar
koin ini adalah contoh Pitis Teboh dari
Palembang,
dengan bahan tembaga dan bertahun AH 1198 (Sekitar tahun 1774/75 Masehi).
Kerajaan-Kerajaan di Kalimantan (Pontianak,
Banjarmasin dan
Maluka)
Kesultanan Pontianak mulai didirikan pada tahun 1770, oleh seorang pedagang
keturunan arab yang bernama Abdul Rahman Alkadrie. Periode pencetakan koin-koin
dari kesultanan di
Kalimantan barat ini
berkisar tahun 1790-1817. Setelah beliau mengangkat diri sebagai sultan,
koin-koin
Pontianak
mulai dicetak dan menjadi mata uang resmi Kesultanan Pontianak. Mata uangnya
terbuat dari tembaga, dimana pada salah satu koinnya terdapat lambang VOC pada
gambar bagian belakang. Koin-koin
Pontianak
dicetak dalam berbagai jenis, dimana koin dengan seri "timbangan"
dibagian belakangnya merupakan koin-koin yang cukup langka. Koin-koin
Pontianak masih juga
dicetak pada jaman pemerintahan Sultan Syarif Kasim Alkadrie (1808-1819).
Kesultanan di Kalimantan lainnya yang mencetak mata uangnya sendiri adalah
Kesultanan Banjarmasin yang terletak di Kalimantan Selatan. Koin-koin
Banjarmasin juga sangat
sulit untuk didapatkan, dan mulai dicetak kira-kira pada saat bertahtanya
Sultan Tamjid Illah III (1785-1808). Koin ini mempunyai labang VOC, dan
mempunyai tahun AH 1221 (Millies # 226).
Kerajaan lain di Borneo adalah Kerajaan Maluka. Penjelasan menenai kerajaan
ini dimuat dalam artikel tersendiri berjudul "
Rajah Putih Dari Borneo".
Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi
(Gowa & Buton)
Makasar merupakan pusat perdagangan VOC di wilayah Indonesia bagian timur,
Untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah di daerah tersebut, maka setelah
berhasil menaklukkan Ternate dan Tidore, VOC mulai merancang misi untuk
menaklukkan Kesultanan Gowa di Sulawesi Selatan, yang merupakan rival berat
bagi VOC. Berkat peperangan antara Aru Palaka dari Bugis, yang dibantu oleh
pasukan VOC, dengan Sultan Hasanuddin dari Gowa, maka akhirnya Sultan Hasanuddin
dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667.
Dalam perjanjian tersebut dicantumkan bahwa wilayah Minahasa, Bitung dan
Sumbawa yang tadinya termasuk dalam wilayah Kesultanan Gowa harus diserahkan
kepada VOC. Dan semua pedagang-pedagang Eropa selain daripada VOC, dilarang
untuk melakukan perdagangan di wilayah bagian timur tersebut.
Mata uang ini adalah koin emas Dinara Sultan Hasanuddin dari kerajaan Gowa
yang memerintah pada tahun 1653-1669. Pada bagian muka tertulis: "Sulta
Hasa-al-din". Sedangkan di bagian belakang adalah "Khada Allah Malik
wa Sultan Amin" atau "Pejuang Allah Kerajaan Sultan Amin". Berat
2.46 gram dengan diameter 19.50 mm. (Millies # 285). Adapun gelar Kesultanan
Hasanuddin adalah "I Mallombasi Muhammad Bakir Dg Mattawang Krg.
Bontomangape".
Satu lagi koin emas dinara dari kerajaan Gowa, Sultan Alauddin Awwalul Islam
yang berkusa pada tahun 1593-1639. Berat 0.6 gram dengan diameter 20 mm. Sultan
Alauddin ini adalah Sultan Gowa pertama yang beralih ke agama Islam. Bagian
depan: "Sultan Alaudin", dan bagian belakangnya:
"Masruf.....". (Millies # 279). Adapun gelar kesultananya adalah:
"I Mangarangi Dg Manrahia A. Alauddin Awwalul Islam Tumenanga ri
Gaukanna" atau disingkat "Matinroe Agamanna".
Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara mempunyai bentuk mata uang yang sangat
unik, yang dinamakan Kampua. Uang Unik dengan bahan kain tenun ini merupakan
satu-satunya yang pernah beredar di
Indonesia. Menurut cerita rakyat
Buton, Kampua pertama kali diperkenalkan oleh Bulawambona, yaitu Ratu Kerajaan
Buton yang kedua, yang memerintah sekitar abad XIX. Setelah Ratu meninggal,
lalu diadakan suatu pasar sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi
kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang-oraang yang berjualan mengambil tempat
dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan, para
pedagang memberikan suatu upeti yang ditaruh diatas makam tersebut, yang
nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu
tradisi bagi masyarakat Buton, bahkan sampai dengan tahun 1940!
Pada jaman bertahtanya Sultan Buton yang keempat, yaitu Sultan Dayan
Ihsanuddin (La’Elangi), Sekitar tahun 1597-1631, perdagangan di Kerjaan Buton
mengalami masa kejayaan.
Para pedagang dari
daerah-daerah lain, termasuk pedagang-pedagang dari Cina dan Portugis datang
dengan kapal-kapalnya ke kerajaan Buton. Mengingat bahwa semua transaksi di
wilayah kerajaan Buton harus menggunakan uang Kampua, maka sebelumnya para
pedagang tersebut harus menukarkan uang mereka dengan Kampua. Penukaran
dilakukan kepada "money Changer" yang banyak terdapat di pelabuhan,
ataupun di lokasi-lokasi perdagangan. Setelah selesai berdagang, mereka boleh
menukarkan sisa uang Kampua yang dimilikinya dengan mata uang yang diinginkan.
Namun tentunya ada juga pedagang-pedagang yang tidak menukarkan, tetapi
menyimpan Kampua itu sebagai kenang-kenangan "uang aneh" dari Buton.
Dalam proses pembuatan dan peredaran uang Kampua ini, mandat sepenuhnya
diserahkan kepada Mentri Besar atau yang disebut "Bonto Ogena".
Dialah yang akan melakukan pengawasan serta pencatatan atas setiap lembar kain
Kampua, baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong.
Perhitungan mengenai situasi dan kondisi wilayah, serta jumlah perkembangan
penduduk yang ada, perlu diperhitungkan agar jumlah peredaran Kampua tetap
dapat dikontrol dan tidak menimbulkan inflasi. Pengawasan oleh "Bonto Ogena"
juga diperlakukan agar tidak timbul pemalsuan-pemalsuan, sehingga hampir setiap
tahunnya motif dan corak Kampua akan selalu dirubah-rubah.
Setelah kain-kain selesai ditenun, kemudian dipotong-potong untuk menjadi
uang Kampua. Pemotongan lembaran kain menjadi Kampua itu juga ada prosedurnya
yang juga ditentukan oleh Mentri Besar. Cara memotongnya adalah dengan mengukur
panjang dan lebar Kampua, dengan cara: ukuran empat jari untuk lebarnya, dan
sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke ujung
jari tangan, untuk panjangnya.
Sedangkan tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang Mentri
Besar atau "Bonto Ogena" itu sendiri! Oleh karenanya ukuran lebar dan
panjang Kampua yang diproduksi tidak selalu sama, tergantung dari panjang
pendeknya ukuran tangan Mentri Besar yang saat itu berkuasa. Jika nantinya yang
menjadi Mentri Besar mempunyai tangan yang pendek, maka ukuran Kampua akan
menjadi pendek pula. Sebaliknya jika "Bonto Ogena" mempunyai tangan
yang lebih panjang, maka hasil Kampua akan menjadi lebih panjang, sesuai dengan
ukuran tangannya!
Pada awal pembuatannya, standar yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu
"bida" (lembar) Kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur
ayam. Namun perkembangan selanjutnya, standar ini diganti dengan nilai
"boka", dimana satu bida sama dengan 30 boka. Boka adalah suatu
standar nilai yang umum digunakan oleh masyarakat Buton, yang biasanya
digunakan pada waktu upacara-upacara adat perkawinan, kematian dan sejenisnya.
Namun setelah Belanda mulai memasuki wilayah Buton kira-kira tahun 1851
fungsi kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan dengan uang uang
buatan "Kompeni". Sampai akhirnya nilai Kampua menjadi sangat tidak
berarti, dimana pada waktu itu nilai tukar untuk 40 lembar Kampua sama dengan
10 sen Doit tembaga, atau setiap 4 lembar Kampua hanya mempunyai nilai sebesar
1 sen saja! Walaupun demikian, Kampua tetap digunakan pada desa-desa tertentu
di Kepulauan Buton sampai dengan tahun 1940!
British East India Company di Sumatra
Setelah kekalahan Inggris dan Banten melawan VOC pada tahun 1619 di
Jakarta, Inggris lari ke
Sumatra.
Setelah mengadakan perjanjian dengan kepala-kepala suku Becoolen (Bengkulu),
maka pada tanggal 12 Juli 1685 Inggris mendirikan "Factory" atau
pusat perdagangannya, dan juga membangun sebuah benteng yang dinamai "FORT
YORK". Namun pada kira-kira 1700, Inggris terpaksa harus meninggalkan
benteng tersebut karena dibakar oleh penduduk. Mereka marah karena merasa
dipermainkan oleh Inggris dalam hal pemaksaan harga rempah-rempah. Tahun 1714
Inggris mendirikan markas barunya tiga mil arah selatan dari
Fort York,
yang selesai dibangun pada tahun 1719. Markas baru itu duberi nama "
Fort Marlbro"
(atau
Fort Marlborough).
Koin pertama kali dicetak oleh Inggris sewaktu menempati pos di Fort
York adalah koin tembaga yang dicetak kira-kira tahun
1695, dan dapat diidentifikasi sebagai
Madras
5 (Friedberg).
Pada bulan Maret tahun 1818, Inggris menunjuk Sir Stamfort Raffles untuk
menduduki posnya yang baru di Bengkulu. Rafles juga pernah menjadi penguasa di
Jawa pada tahun 1811-1816. Selama pemerintahannya di Jawa, Raffles banyak
sekali menerbitkan buku-buku yang luar biasa mengenai Jawa.
Berdasarkan perjanjian Inggris dan Belanda pada tanggal 17 Maret 1824,
Inggris akhirnya harus menyerahkan Bengkulu dan semua penduduknya di pantai
barat
Sumatra kepada Belanda. Sedangkan
Belanda menyerahkan jajahannya Malaka ke tangan Inggris, dan memperbolehkan
Inggris mendirikan koloni di Singapura.
Token-Token Perkebunan dan Pertambangan
Pada jaman pemerintahan Belanda, banyak mata uang yang dibuat khusus oleh
perusahaan-perusahaan perkebunan dan pertambangan, tidak hanya di Jawa,
Sumatra, Bangka,
Kalimantan, bahkan juga di
pulau Batjan ternate.
Token dalam arti luas adalah alat yang biasanya dibuat oleh pihak swasta
atau non-pemerintah, untuk tujuan sebagai alat tukar menukar, iklan, jasa atau
untuk tujuan lainya. Ciri khusus dari pada Token adalah hanya berlaku dan
terbatas pada suatu tempat dimana token tersebut dibuat. Uang token (atau biasa
disebut sebagai Token), adalah suatu alat atau benda yang biasanya dikeluarkan
oleh pihak swasta, untuk tujuan sebagai alat tukar menukar, dengan suatu nilai
tertentu dan dalam daerah peredaran yang sangat terbatas. Sebagai contoh token
kasino adalah koin yang hanya dapat digunakan di kasino tempat token tersebut
dicetak. Koin dari kasino A hanya dapat digunakan di kasino A. Koin kasino A
tidak dapat digunakan di kasino B atau C, atau sebaliknya. Sedangkan token
perjalanan, seperti tiket kereta api, bis, pesawat, kapal api dan sebagainya,
mempunyai nilai dan hanya dapat digunakan di tempat tiket tersebut diterbitkan.
Setelah selesainya perang Jawa tahun 1825-1830, kondisi keuangan Belanda
sangatlah morat-marit karena banyak tersedot untuk membiayai peperangan di Jawa
ini. Perang yang berlangung selama 5 tahun, dari bulan Mei 1825 sampai dengan
Maret 1830, dikenal dengan nama "Perang Jawa" atau "Perang
Diponegoro", dimana kira-kira 8.000 orang-orang Eropa (termasuk Belanda)
dan lebid dari 7.000 pasukan Jawa menjadi korbannya. Pada waktu itu, jumlah
penduduk
Yogyakarta telah berkurang hampir
setengahnya!
Guna mengisi kekosongan kas negara, maka Belanda melalui Gubernur Jendral
Van den Bosch mulai memperkenalkan sistem tanam paksa yang dinamakan
"Kultur Stelsel" (Cutuurstelsel). Sistem Kultur Stelsel ini ternyata
berjalan sangat baik, yang membuat keadaan keuangan di Belanda menjadi membaik,
bahkan surplus. Semenjak masa itulah mulai banyak didirikan usaha-usaha
perkebunan, baik perusahaan-perusahaan dari bangsa Belanda sendiri, ataupun
dari bangsa Eropa lainya, seperti Jerman, Perancis, bahkan dari bangsa Asia,
yaitu Jepang!
Indonesia
adalah negara yang sangat kaya dengan uang-uang tokennya, baik token perkebunan
maupun token pertambangan. Pada jaman pemerintahan Belanda tempo dulu, di pulau
Jawa dan terutama di
Sumatra, banyak sekali
perusahaan swasta yang mengelola lahan perkebunanya sendiri. Mereka diberi hak
untuk membuka hutan guna dijadikan lahan perkebunan, serta diberi ijin untuk
membuat mata uangnya sendiri yang akan digunakan dikawasannya sendiri. Mata
uang tersebut dinamakan Token perkebunan (Plantation Token), yang mana
mempunyai area peredaran sebatas pada daerah perkebunan itu sendiri.
Lahan-lahan perkebunan di
Sumatra mulai
dibuka sejak tahun 1863 sampai dengan tahun 1919. Pada mulanya diperkenalkan
tanaman tembakau di daerah Deli. Dari sini berkembang perkebunan-perkebunan
baru yang dibuka, dengan bermacam-macam tanaman yang diusahakan, seperti karet,
coklat, dan lain-lain. Namun tanaman yang paling utama adalah tembakau. Karena
banyaknya lahan-lahan perkebunan yang dibuka, maka timbul persoalan mengenai
kebutuhan tenaga kerja. Tenaga kerja lokal pada umumnya tidak mau bekerja di
perkebunan-perkebunan itu, karena disamping tempatnya yang sangat jauh, mereka
juga mempunyai keluarga yang tidak mungkin ditinggalkan. Untuk mengatasi
keadaan tersebut, maka didatangkan tenaga-tenaga kerja berasal dari Jawa,
dimana mereka bersedia tinggal di daerah-daerah perkebunan yang terpencil itu.
Sejak saat itu ratusan kapal-kapal besar mondar-mondir Jawa Suamtra untuk
mengangkut tenaga-tenaga kerja Jawa yang akan ditempatkan pada
perkebunan-perkebunan di Sumatra.
Para pekerja akan dibayar upahnya dengan
memakai token yang dikeluarkan oleh masing-masing perusahaan. Dan untuk
mencukupi kebutuhan para pekerjanya, maka di tiap-tiap perkebunan mempunyai
toko yang menyediakan berbagai macam kebutuhan pokok maupun kebutuhan
sehari-hari.
Para pekerja dapat membelanjakan
uangnya di toko-toko yang telah disediakan. Dan sekali lagi, bahwa token ini
tidak berlaku dan tidak dapt dibelanjakan ditempat-tempat perkebunan lainya.
Daerah-daerah di Sumatra yang dibuka luas untuk lahan perkebunan, terutama
di Sumatra Utara (Langkat, Deli Serdang, Asahan, Siak, Labuan Batu, Tamian) dan
Sumatra Barat (Bedagai, Batu Bahra, Padang). Daerah itu terdapat beratus-ratus
perusahaan swasta yang mengelola perkebunan, dan bukan saja dari Belanda
sendiri, tetapi juga yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan asal Jerman.
Perkebunan Binjey dikelola oleh perusahaan swasta asal Jerman sejak 1884.
Perusahaan tembakau ini mengeluarkan tokennya dalam berbagai pecahan, dimana
pada gambar adalah token dengan nilai 1 Dollar. Pada bagian depan terdapat
tulisan: "UNTERNEHMUNG BINJEY, Gut Fur 1 Dollar, 1890".
Token dari dari perkebunan "SILAU" di Asahan, mempunyai pecahan
dari 1 Dollar; ½ Dollar, 1/5 Dollar sampai pecahan 1/10 Dollar. Pada sisi
depanya tertulis: MUNT VAN DE ASAHAN TABAK MAATSCHAPPIJ "SILAU", 1
DOLLAR. Sedangkan di bagian belakang terdapat tulisan: ATMS, dengan tulisan
bahasa Cina dalam lingkaran d itengah. Perusahaan ini berdiri kira-kira tahun
1890, dimana pada mulanya dikembangkan tembakau sebagai tanaman utamanya. Namun
kira-kira tahun 1913 perusahaan mulai mengembangkan tanaman karet disamping tembakau.
Token-token ini terbuat dari nikel dan kupro-nikel.
Token dari Perkebunan Tanah Radja mempunyai bentuk yang tidak biasa, yaitu
bentuk segi tiga. Token yang dikeluarkan kira-kira pada tahun 1890-1898 ini
dicetak oleh perkebunan "UNTERNEHMUNG TANAH RADJA", yang terletak di
daerah Asahan. Disamping tembakau, perusahaan juga mengelola perkebunan karet.
Perusahaan Indonesia Bakrie & Brothers pernah pula mengelola perkebunan
Tanah Radja.
Token dengan nilai 1 Dollar dari perusahaan "UNTERNEHMUNG GOERACH BATOE"
di Asahan dicetak dalam 2 nominal yang berbeda, dimana pecahan yang satu
mempunyai nilai "GUT FUR 1 DOLLAR", sedang pecahan yang lainya
berharga "GUT FUR 1 DOLLAR REIS", atau "1 Dollar Beras",
atau artinya kira-kira "Dapat dipakai untuk membeli beras seharga 1
Dollar".
Sedangkan perkebunan tembakau "de Guigne Freres" di Soengei
Sikambing, Deli, mencetak tokennya dengan nilai 2, 3 atau 4 Gantang Bras.
Adapun berat untuk satu gantang beras kira-kira 8,5 liter.
Di pulau Jawa sendiri walaupun tidak sebanyak di kawasan
Sumatra,
ada beberapa perkebunan Argasari yang terletak di Gunung Halimun, desa
Cipeundeuh. Shcolten mengatakan bahwa Argasari adalah perkebunan Teh, Sedangkan
A.J Lansen menyebutnya sebagai perkebunan Kina token-token ini juga dicetak dalam
beberapa pecahan, dimana bagian muka tertulis (sesuai dengan nominalnya):
"EEN HALF ARBEIDSLOON" pada lingkaran atas, dan tulisan Jawa pada
lingkaran bawah. Nominal di bawah lubang, dengan dua buah tangkai daun kina di
kiri dan kanannya. Sedangkan pada bagian belakang adalah: "ONDERNEMING
ARGASARI,1892". Dua buah silangan cangkul (?) di lingkaran tengah. Pada
gambar terlihat cetak tindih angka "1" pada token nominal ½
Arbeidsloon. Menurut referensi yang ada, token-token Argasari dicetak hanya
dalam pecahan 2½ , ½ Arbeidsloon, dan pecahan 20 Sen. Karena kebutuhan token
dengan 1 Arbeidsloon, maka kemungkinan dilakukan cetak tindih nominal
"1" pada token pecahan ½ ini.
Didaerah Limbangan, Penembong, Garut, juga terdapat perkebunan teh
"WASPADA". Token yang dicetak pada tahun 1886-1895 ini, hanya pada
sisi mukanya saja yang dicetak, dengan nominal 10, 5 dan 1 Cent dengan tulisan
Jawa (atau Sunda?).
Di daerah Jawa Barat lainnya, yaitu di perkebunan teh Tjirohani di Sukabumi,
terdapat token dengan nominal 8 sen yang sangat unik. Token ini dibuat dari
bambu, satu-satunya token bambu yang pernah dibuat di
Indonesia.
Untuk lebih jelasnya tentang uang bambu ini, silahkan baca artikel tentang
Uang Bambu Dari Tjirohani, Sukabumi.
Di Jawa timur terdapat beberapa perkebunan yang mencetak matauangnya,
seperti "SOEMBER DOEREN", "SOEMBER REDJO", "SOEMBER
SOEKA", "SOEMBER TANGKEP", "SOEMBER TEMPOER", yang
semuanya terletak di desa Turen, Malang. Token tembaga dari perkebunan Soember
Doeren ini mempunyai nominal 50 Sen, dan dicetak antara tahun 1891-1912.
Perusahaan pengembangan tanaman coklat, kopi dan karet. Perkebunan
"BOEMIE AJOE" di sumber Nongko,
Malang,
mencetak tokennya pada tahun 1890-1900. Hanya ada dua pecahan yang dicetak,
yaitu dengan nominal 50 dan 25 Sen.
Satu lagi lokasi perkebunan yang paling jauh, adalah di pulau Bacan,
Ternate. Keberadaan token dari Bacan ini sangat langka
sekali, dibuat dari bahan nikel pada tahun 1892-1911. Pada sebelah mukanya
terdapat tulisan: "ROTTERDAM BATJAN CULTUUR MAATSCHAPPIJ". Pada
bagian belakangnya adalah: "GOED VOOR 1 GULDEN".
Demikian usai sudah rangkaian panjang dari artikel sejarah perkembangan mata
uang
Indonesia.
Tujuan utama dari penerbitan tulisan artikel ini adalah untuk pembelajaran,
baik kepada masyarakat numismatik maupun kepada masyarakat umum, agar mereka
semua tahu mengenai sejarah dari mata uangnya sendiri,
Indonesia.
Dengan mengetahui sejarahnya, kita akan lebih mengenal mata uang itu sendiri,
yang pada akhirnya diharapkan akan menimbulkan minat dan hasrat bagi masyarakat
untuk memulai mengumpulkan mata uang guna dijadikan koleksi.
Artikel ini disusun setelah memakan waktu kurang lebih selama
lima tahun, dengan
mengambil bahan-bahan dan informasi dari ratusan buku buku. Namun anehnya,
hampir seluruh buku-buku tersebut dikarang oleh penulis luar negeri, terutama
peneliti-peneliti dari Eropa. Hanya satu atau dua informasi yang diambil dari penulis
dalam negeri, walaupun isi secara umum dari buku-buku yang ditulisnya tidak
menggambarkan kejadian yang sebenarnya.
Sepanjang diterbitkanya artikel ini, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan
ataupun orang-orang yang tinggal di suatu daerah tetapi tidak pernah mengetahui
bahwa di daerahnya itu dulu pernah dicetak mata uang yang pernah beredar di
daerahnya, seperti koin-koin dari Minangkabau, Maluka, ataupun token-token
perkebunan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar